MENGAGUNGKAN SUNNAH RASULULLAH

بسم الله الر حمن الر حيم
الحمد لله ر ب العلمين
Shalawat dan salam kita sampaikan kepada suri tauladan kita nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam…

image

Sunnah secara bahasa adalah jalan atau cara, sehingga Sunnah Nabi secara bahasa yaitu jalan atau cara Nabi. Ibnu Rajab dalam kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan As-Sunnah pada asalnya adalah jalan yang ditempuh, dan itu meliputi sikap berpegang teguh dengan apa yang dijalani oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan para khalifahnya radliyallahu ‘anhum , baik dalam keyakinan, amalan, maupun ucapan. Demikianlah makna As-Sunnah secara umum.

Itulah yang dimaksud dengan As-Sunnah dalam pembahasan ini, sehingga tidak terpaku pada istilah sunnah menurut ahli fiqih, atau sunnah menurut ahli ushul fiqih, ataupun sunnah dalam arti aqidah, tetapi mencakup maknanya yang luas. Sebagaimana
disebutkan dalam hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam :

ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻲ ﻭَ ﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮَﺍﺷِﺪِﻳﻦَ
”Wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan
sunnah para Al-Khulafaa’ Ar-Rasyidiin…”
( HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi )

Perintah Memuliakan Sunnah

Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam , sebuah istilah yang kerap kita dengar dan kita ucapkan. Karena memang ia merupakan landasan hidup kita sebagai penganut ajaran Islam. Kita semua sepakat untuk menjunjung tinggi dan mengagungkan Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam , dan bersepakat pulabahwa yang merendahkannya berarti menghinakan Islam dan ajaran Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam . Namun, jika kita menengok realita yang ada, apa yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyikapi Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam nampaknya sudah jauh dari yang semestinya. Bahkan keadaannya sangat parah. Tidak tanggung-tanggung, diantara mereka ada yang menolak terang-terangan Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dari jenis Ahad (yang tidak sampai pada derajat Mutawatir) dalam masalah aqidah. Padahal, ia adalah hujjah, dapat dijadikan sebagai dalil. Ada pula yang menolak dan mengingkari Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam secara total dengan berkedok mengikuti Al-Qur’an saja. Padahal Al-Qur’an tidak mungkin dipisahkan dari As-Sunnah. Al-Qur’an memerintahkan untuk mengambil apa saja yang datang dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam (sunnahnya), sebagaimana dalam firman-Nya (yang artinya):

“Segala apa yang dibawa Rasul, maka ambillah. Dan
segala apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah.”
( Al-Hasyr: 7)

Al-Imam Abu Qilabah rahimahullah berkata: “Jika kamu ajak bicara seseorang dengan menyebutkan sunnah kepadanya, lalu ia mengatakan: ‘Tinggalkan kami dari ini (penyebutan sunnah), dan sebutkan (pada kami), Kitabullah (Al-Qur’an saja).’ Maka ketahuilah bahwa dia adalah orang yang sesat.” (Lihat Thabaqat Ibni Sa’d, 7/184, Ta’zhimus Sunnah, hal. 25 )

Bentuk yang lebih parah dari ‘sekedar’ menolak adalah mengolok-olok As-Sunnah dan orang-orang yang berupaya berjalan di atasnya. Ada pula yang dengan terang-terangan menolak hadits Nabi karena dinilai tidak sesuai dengan akal atau realita zaman (menurut apa yang ia sangka).

Sangat disayangkan bila sikap-sikap seperti ini justru ada pada orang-orang yang terjun ke kancah dakwah. Padahal lisan mereka juga mengatakan bahwa kita wajib mengagungkan Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.

Mengagungkan Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam adalah perkara besar dan bukan sekedar isapan jempol. Ia butuh bukti nyata dan praktek dalam kehidupan. Namun kini keadaannya justru sebaliknya. Banyak orang menolaknya, banyak orang mengabaikannya, bahkan mengolok-ngoloknya. Padahal Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (artinya):

“Barangsiapa yang menaati Rasul berarti ia telah
menaati Allah.” ( An-Nisa’: 80 )

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul- Nya, maka sungguhlah ia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.”
( Al-Ahzab: 36 )
Ayat-ayat ini menunjukkan secara tegas bagaimana semestinya kita menempatkan Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, yakni wajib mengambilnya. Hal ini merupakan keharusan yang tidak ada tawar-menawar lagi. Kemudian menjadikan Sunnah beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai pedoman dalam melangkah dan melakukan ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla jadikan Nabi-Nya sebagai penjelas dan penjabar Al-Qur’an, bukan sekedar menyampaikan atau membacakannya secara lafazh saja, sebagaimana dalam firman-Nya (artinya):

”Dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.”
( An-Nahl: 44)

Demikian pula sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam:
“Saya wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah. Kemudian untuk mendengar dan taat kepada pimpinan, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalku, ia akan melihat perbedaan yang banyak. Maka disaat seperti itu, wajib atas kalian bepegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah para Al- Khulafa’ Ar-Rasyidin . Gigitlah (sunnah itu) dengan gigi-gigi geraham kalian! (Berpegangteguhlah dengan sunnah itu!–red). Jauhilah perkara-perkara yang baru (bid’ah)! karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.”
( HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi )

Larangan Meninggalkan Sunnah Nabi

Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu mengatakan:
“Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam , kecuali pasti saya juga melakukannya. Dan saya takut, jika saya tinggalkan sesuatu darinya lalu saya menjadi sesat.”

Wahai saudaraku, orang nomor satu setelah Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam (Abu Bakar radliyallahu ‘anhu ) khawatir terhadap dirinya untuk tersesat jika menyelisihi sesuatu dari Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Maka bagaimana jadinya dengan sebuah jaman yang penduduknya mengolok-olok Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mereka dan perintah-perintahnya, bahkan berbangga dengan menyelisihi dan mengolok-oloknya?!

Maka sangatlah mengherankan kalau seseorang mengerti Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam lalu meninggalkannya dan mengambil pendapat yang lain. Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata:
“Saya merasa heran terhadap sebuah kaum yang tahu sanad hadits dan keshahihannya kemudian memilih pendapat Sufyan
(maksudnya Sufyan Ats Tsauri-red). Padahal Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (artinya): “Maka hendaklah berhati-hati orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul-Nya untuk tertimpa fitnah atau tertimpa adzab yang pedih.” ( An-Nur: 63). Tahukah kalian apa arti
fitnah? Fitnah adalah syirik.” ( Fathul Majid, hal. 466).

Demikian pula suatu saat Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah ditanya tentang sebuah masalah, maka beliau mengatakan bahwa dalam masalah ini diriwayatkan demikian dan demikian dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Maka si penanya mengatakan: ”Wahai Al-Imam Asy-Syafi’i, apakah engkau berpendapat sesuai dengan hadits itu?” Maka beliau gemetar lalu mengatakan: ”Wahai, bumi mana yang akan membawaku dan langit mana yang akan menaungiku, jika aku riwayatkan hadits dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam kemudian aku tidak memakainya?! Tentu, hadits itu diatas pendengaran dan penglihatanku (yang aku junjung tinggi–red).”
( Shifatus Shafwah , 2/256, Ta’zhimus Sunnah , hal. 28).

Dalam kesempatan lain, beliau ditanya dengan pertanyaan yang mirip lalu beliau gemetar dan menjawab: ”Apakah engkau melihat aku seorang Nashrani? Apakah engkau melihatku keluar dari gereja? Ataukah engkau melihatku memakai ikat di tengah badanku (yang biasa dipakai orang-orang Nashrani–red)? Aku meriwayatkan hadits dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu aku tidak mengambilnya sebagai pendapatku?!”
( Miftahul Jannah , no. 6)

Pahala Bagi Orang yang Berpegang dengan Sunnah Nabi
Shalallahu ‘alaihi wa Sallam

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran. Kesabaran di hari itu seperti menggenggam bara api. Bagi yang beramal (dengan Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam) pada saat itu, akan mendapatkan pahala lima puluh.” Seorang shahabat bertanya: “Lima puluh dari mereka, wahai Rasulullah?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab: “Pahala lima puluh dari kalian.”
( HR. Abu Dawud danAt-Tirmidzi. Lihat Silsilah Ash Shahihah, no. 494)

Jaminan Bagi Orang Yang Berpegang Teguh Dengan
Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam

Selama seseorang berada di atas Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam , maka ia tetap berada di atas istiqamah. Sebaliknya, jika tidak demikian, berarti ia telah melenceng dari jalan yang lurus, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma :

”Manusia akan tetap berada di atas jalan yang lurusselama mereka mengikuti jejak Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. ”
( Riwayat Al-Baihaqi , Miftahul Jannah, no.197).

‘Urwah bin Zubair rahimahullah mengatakan:
”Mengikuti Sunnah-sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam adalah tonggak penegak agama.”
( Riwayat Al-Baihaqi ,Miftahul Jannah, no. 198)

Seorang tabi’in bernama Ibnu Sirin rahimahullah mengatakan: ”Dahulu mereka mengatakan: selama seseorang berada di atas jejak Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, maka ia berada di atas jalan yang lurus.”
( Riwayat Al-Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 200)

Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (artinya):
”Dan jika kalian menaatinya niscaya kalian akan mendapatkan hidayah.”
( An-Nur: 54)

Contoh Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang Mulai Terlihat Asing bagi Sebagian Kaum Muslimin

1. Memelihara Jenggot.
Memelihara jenggot merupakan Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Bahkan beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan umatnya untuk memlihara jenggot, sebagaimana dalam sabdanya:
“Potonglah kumis dan peliharalah jenggot kalian.”
( HR.Al-Bukhari dan Muslim)

“Selisihilah orang-orang musyrik, potonglah kumis dan peliharalah jenggot kalian.”
( HR. Al-Bukhari dan Muslim)

“Potonglah kumis dan biarkan jenggot kalian, selisihilah orang-orang Majusi.”
( HR. Muslim )
Dan masih banyak lagi dalil yang lainnya.

Berkata Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah:
“Jenggot merupakan kesempurnaan penciptaan laki-laki.”
(Lihat Al-Umm , juz 6, halaman 89)

2. Shalat Berjamaah di Masjid
Melaksanakan shalat fardhu lima waktu secara berjamaah merupakan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (artinya):
“…Ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.”
( Al-Baqarah: 43)

Berkata Al-Imam As-Sa’dy: “Maksudnya shalatlah bersama orang-orang yang shalat. Maka didalamnya terkandung perintah untuk shalat secara berjama’ah.” ( Tafsir As-Sa’dy , hal. 50)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.”
( HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Shahabat Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengajarkan kami SUNANUL HUDA (jalan-jalan petunjuk dan kebenaran). Dan diantara sunanul huda adalah melaksanakan shalat (lima waktu secara berjama’ah) di masjid yang dikumandangkan adzan.” ( Riwayat Muslim)

3. Meluruskan dan Merapatkan Shaf
Meluruskan dan merapatkan shaf juga merupakan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang sangat penting, karena lurus dan rapatnya shaf merupakan kesempurnaan shalat, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam:
“Lurus dan rapatkan shaf-shaf kalian! karena lurus dan rapatnya shaf termasuk dari kesempurnaan shalat.”
( HR. Muslim)

Bahkan beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mengancam akan terjadinya perslisihan, bagi siapa yang tidak meluruskan dan merapatkan shafnya ketika shalat berjamaah, dengan sabdanya:

“Sungguh hendaklah kalian meluruskan dan merapatkan shaf. Atau (jika tidak), sungguh Allah akan menjadikan perselisihan di dalam hati-hati kalian.”
( HR. Muslim dan Abu Dawud, dengan lafazh riwayat Abu Dawud)

Cara merapatkan shaf adalah merapatkan kaki dengan kaki, pundak dengan pundak. Berkata Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu : “…Adalah seorang diantara kami (para shahabat radliyallahu ‘anhum ) merapatkan pundaknya dengan pundak orang disebelahnya, kakinya dengan kaki orang yang disebelahnya.”
( Riwayat Al-Bukhari)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Iklan

AGAMA BUKAN PERASAAN

image

Jika kita menelisik kehidupan beragama dari kaum muslimin di Indonesia, atau negeri lainnya, maka kita akan banyak menemukan bukti dan fenomena yang menguatkan bahwa kehidupan beragama kita masih
sebatas perasaan. Padahal agama bukanlah perasaan, hawa nafsu dan akal-akalan semata. Agama adalah
wahyu dan petunjuk datang dari langit sana.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

ﻭَﺃَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﻣُﺼَﺪِّﻗًﺎ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ
ﻭَﻣُﻬَﻴْﻤِﻨًﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﺎﺣْﻜُﻢْ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺘَّﺒِﻊْ ﺃَﻫْﻮَﺍﺀَﻫُﻢْ ﻋَﻤَّﺎ
ﺟَﺎﺀَﻙَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻟِﻜُﻞٍّ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺷِﺮْﻋَﺔً ﻭَﻣِﻨْﻬَﺎﺟًﺎ ﻭَﻟَﻮْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ
ﻟَﺠَﻌَﻠَﻜُﻢْ ﺃُﻣَّﺔً ﻭَﺍﺣِﺪَﺓً ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻟِﻴَﺒْﻠُﻮَﻛُﻢْ ﻓِﻲ ﻣَﺎ ﺁَﺗَﺎﻛُﻢْ ﻓَﺎﺳْﺘَﺒِﻘُﻮﺍ
ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَﺍﺕِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺮْﺟِﻌُﻜُﻢْ ﺟَﻤِﻴﻌًﺎ ﻓَﻴُﻨَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓِﻴﻪِ
ﺗَﺨْﺘَﻠِﻔُﻮﻥَ ] ﺍﻟﻤﺎﺋﺪﺓ 48[/
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan
sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran
yang telah datang kepadamu”.
(QS. Al-Maa’idah : 48)

Al-Hafizh Imaduddin Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata, “Maksudnya, janganlah engkau berpaling dari kebenaran yang Allah perintahkan kepadamu, menuju keinginan-
keinginan dari orang-orang jahil lagi celaka itu”.
[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/128), cet. Dar Thoybah, 1420 H]

Ini menunjukkan bahwa seorang dalam beragama tidaklah mengikuti keinginan dan perasaan manusia, tapi mengikuti wahyu dari Allah -Azza wa Jalla- dan
petunjuk Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- yang bersumber dari bimbingan Allah.
Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,

َﻟَﺎ ﺇِﻧِّﻲ ﺃُﻭﺗِﻴﺖُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﻣِﺜْﻠَﻪُ ﻣَﻌَﻪُ ﺃَﻟَﺎ ﻳُﻮﺷِﻚُ ﺭَﺟُﻞٌ ﺷَﺒْﻌَﺎﻥُ ﻋَﻠَﻰ
ﺃَﺭِﻳﻜَﺘِﻪِ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﻬَﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻓَﻤَﺎ ﻭَﺟَﺪْﺗُﻢْ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﺣَﻠَﺎﻝٍ
ﻓَﺄَﺣِﻠُّﻮﻩُ ﻭَﻣَﺎ ﻭَﺟَﺪْﺗُﻢْ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﺣَﺮَﺍﻡٍ ﻓَﺤَﺮِّﻣُﻮﻩُ
“Ingatlah sungguh aku telah diberi Al-Kitab, dan semisalnya bersamanya. Ingatlah, hampir-hampir akan ada seseorang yang kenyang di atas ranjangnya seraya berkata, “Berpeganglah saja dengan Al-Qur’an ini. Karenanya, apa saja yang kalian temukan di dalamnya berupa sesuatu yang halal, maka halalkan, dan apa saja yang kalian temukan di dalamnya beruapa sesuatu yang haram, maka haramkanlah”. [HR. Abu Dawud (no.4606). Di- shohih -kan Al-Albaniy dalam Al-Misykah (163)]

Para pembaca yang budiman, jadi seorang muslim hendaknya dalam beragama, ia mengikuti petunjuk
wahyu, baik yang terdapat dalam Al-Qur’an, maupun hadits (sabda) Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,
bukan mengikuti perasaan dan hawa nafsu, tanpa bimbingan wahyu.

Perasaan dan hawa nafsu adalah tabiat pada manusia. Perasaan terkadang mendorong seseorang ke arah
kebaikan dan terkadang pula kepada keburukan. Karenanya, syariat datang menjelaskan segala sesuatu agar perasaan dapat mengikuti kebaikan yang ditunjukkan oleh wahyu. Perasaan, akal dan hawa nafsu
bukanlah pemimpin, pengarah dan teladan bagi manusia dalam beragama. Perasaan, akal dan hawa nafsu harus
mengikuti wahyu.

Disinilah kerusakan sebagian kaum muslimin saat ia beragama, maka ia selalu menjadikan perasaan dan
akalnya sebagai penentu dan pemimpin, bukan wahyu sebagai penentu dan pemutus perkara!! Akhirnya, Al- Qur’an ia kesampingkan, bahkan terkadang ia buang di
balik punggungnya.Sebagai contoh, lihatlah mereka yang lebih memuliakan
hukum-hukum Belanda, Perancis, Amerika, Jerman dan kawanannya dari kalangan orang-orang yang Allah
sesatkan hatinya. Perasaan mereka lebih senang mengikuti hukum, atau undang-undang buatan manusia
lemah, bahkan kafir, walaupun jelas-jelas banyak kekurangannya harus direvisi sepanjang abad!! Manakah
orang-orang yang mau mengagungkan Al-Qur’an dan mengikutinya.

Mengapakah kita meniru kaum jahiliah
yang selalu mencari petunjuk dan penentu hidup dari selain wahyu Allah?! Jangan-jangan kita terkena firman
Allah,

ﻭَﺃَﻥِ ﺍﺣْﻜُﻢْ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺘَّﺒِﻊْ ﺃَﻫْﻮَﺍﺀَﻫُﻢْ ﻭَﺍﺣْﺬَﺭْﻫُﻢْ ﺃَﻥْ
ﻳَﻔْﺘِﻨُﻮﻙَ ﻋَﻦْ ﺑَﻌْﺾِ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﻮَﻟَّﻮْﺍ ﻓَﺎﻋْﻠَﻢْ ﺃَﻧَّﻤَﺎ ﻳُﺮِﻳﺪُ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﻳُﺼِﻴﺒَﻬُﻢْ ﺑِﺒَﻌْﺾِ ﺫُﻧُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻭَﺇِﻥَّ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻟَﻔَﺎﺳِﻘُﻮﻥَ
(49) ﺃَﻓَﺤُﻜْﻢَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻳَﺒْﻐُﻮﻥَ ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣُﻜْﻤًﺎ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ
ﻳُﻮﻗِﻨُﻮﻥَ ] ﺍﻟﻤﺎﺋﺪﺓ 50-49/ ]
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling
(dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki
akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya
kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”
(QS. Al-Maa’idah : 49-50)

Al-Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy Al-Yamaniy-rahimahullah- berkata, “Di dalam ayat ini terdapat
larangan bagi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dari mengikuti keinginan-keinginan ahli Kitab, lalu berpaling
dari kebenaran yang Allah turunkan kepada beliau. Karena, pemeluk setiap agama menginginkan agar segala urusan berdasarkan sesuatu yang mereka pijaki dan sesuatu yang mereka warisi dari nenek  moyangnya walaupun urusan itu batil, mansukh (terhapus hukumnya), ataukah telah diselewengkan dari hukum yang pernah Allah turunkan kepada para nabi
sebagaimana yang terjadi pada perkara rajam (bagi pezina yang sudah nikah) dan sejenisnya diantara perkara-perkara yang telah mereka selewengkan dari kitab-kitab Allah”. [Lihat Fathul Qodir Al-Jami’ baina
Fannai Ar-Riwayah wa ad-Diroyah min Ilm At-Tafsir (2/70)]

Disinilah kita heran dengan sebagian kaum muslimin yang amat bangga dan senang mengadopsi hukum-hukum manusia kafir, entah dari kalangan Ahlul Kitab atau selainnya, lalu membuang Al-Qur’an di balik punggung mereka. Padahal semua hukum yang mereka tetapkan hanyalah berdasarkan pengalaman yang
didasari oleh perasaan, akal dan hawa nafsu semata.  Kalaupun ada diantaranya mereka dasari dengan
hukum-hukum Taurat atau Injil, tapi ketahuilah semua hukum-hukum itu telah dihapus oleh Al-Qur’an dan
diganti dengan yang lebih baik. Kalau pun mereka bersikeras bahwa itu juga kebaikan, maka kita katakan bahwa tak ada kebaikan, melainkan Al-Qur’an beserta Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah menjelaskannya.

Ketahuilah bahwa hukum-hukum
buatan manusia amat banyak memiliki kekurangan yang harus dibenahi sana-sini dan dihapus atau diubah.
Adapun hukum Allah yang tertera dalam Al-Qur’an dan Sunnah, maka ia sudah paten dan siap menjawab
segala tantangan zaman, sebab ia cocok di segala tempat dan zaman. Kalau tak percaya, buktikan saja
melalui kajian dan penerapan. Jangan tertipu dengan propaganda para pejuang hukum-hukum jahiliah.
Gambaran lain dari sisi keberagamaan kita yang masih dilandasi oleh perasaan, adanya sekelompok kaum
muslimin yang suka mengada-adakan ajaran baru alias bid’ah dalam agama. Bid’ah (penemuan baru) dalam
perkara dunia selama bermanfaat dan tak membawa hal negatif, maka ia terpuji. Adapun bid’ah dalam perkara
agama (yakni, ajaran yang baru ditemukan) yang tak pernah diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi –
Shallallahu alaihi wa sallam-, maka semuanya adalah keburukan dan kesesatan, walapun akal dan perasaan
kita memandangnya sebagai perkara yang baik. Bid’ah dalam beragama, misalnya: perayaan Maulid, Isra’-
Mi’raj, Nuzulul Qur’an, perayaan tahun baru (Masehi atau Hijriyyah), dzikir berjama’ah. Semua ini adalah
ajaran baru yang tak ada contohnya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Tapi anehnya, para kiai dan ustadz berusaha mengutak-atik mencari dalil dalam membenarkannya agar dapat mengikuti selera dan perasaan masyarakat yang senang kepada bid’ah-bid’ah seperti itu.
Padahal Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda

ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻲْ ﺃَﻣْﺮِﻧﺎَ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ
“Barangsiapa yang mengadakan suatu perkara (baru) dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk
darinya, maka perkara itu tertolak”.
[HR.Al-Bukhary dalam Shahih-nya (2697) dan Muslim dalam Shahih-nya (1718)]

Bahkan beliau bersabda mencap sesat semua bid’ah dalam perkara agama,

ﻭَﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺕِ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻓَﺈِﻥَّ ﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ
ﺿَﻼَﻟَﺔٌ
“Wasapadalah kalian terhadap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan
adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat”.
[HR. Abu Dawud (4609). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (2735)]

Perkara Maulid –misalnya-, ia perkara baru diada-adakan orang-orang belakangan berdasarkan perasaan
mereka belaka, bukan didasari oleh dalil. Nanti belakangan sejak maulid diperingati oleh banyak orang, barulah para pejuang maulid mencari-cari dalil tentang keabsahannya. Walaupun semua dalil itu tak ada sedikitpun padanya sisi yang menguatkan mereka.

Jika kita mau merujuk kepada sejarah, maka maulid itu diada-adakan oleh orang-orang menyimpang dari
kalangan sekte sesat yang bernama Syi’ah.

Seorang Sejarawan dari kalangan madzhab Syafi’iyyah, Al-Imam
Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy rahimahullah- dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah (11/127) berkata, “Sesungguhnya pemerintahan Al-Fathimiyyun Al-Ubaidiyyun yang bernisbah kepada Ubaidillah bin
Maimun Al-Qoddah, seorang Yahudi yang memerintah di Mesir dari tahun 357 – 567 H, mereka memunculkan
banyak hari raya. Diantaranya perayaan maulid Nabi – Shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Perayaan hari lahir (maulid) Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak muncul, kecuali pada zaman Dinasti
Al-Ubaidiyyun pada tahun 362 H. Tidak ada seorang pun yang mendahului mereka dalam merayakan maulid
ini. Kemudian, mereka diikuti oleh Raja Damaskus, Al-Muzhaffar sekitar abad ke tujuh.
[Lihat Siyar A’lam An-Nubalaa’ (20/365/no. 253)]

Perayaan maulid merupakan perkara baru dalam agama, karenanya para ulama dari zaman ke zaman
menampakkan pengingkaran terhadap acara tersebut. Diantara ulama yang mengingkari perayaan maulid
(namun ini bukan pembatasan karena terbatasnya halaman):

Al-Imam Tajuddin Abu Hafsh ‘Umar bin ‘Ali Al-Lakhmy Al-Fakihaniy (wafat 734 H) -rahimahullah- berkata,
“Saya tidak mengetahui bagi perayaan maulid ini ada asalnya (baca: landasannya) dari Al-Kitab, dan tidak
pula dari Sunnah; tidak pernah dinukil pengamalannya dari seorang pun di kalangan para ulama ummat ini
yang merupakan panutan dalam agama, yang berpegang teguh dengan jejak-jejak para ulama terdahulu. Bahkan ini adalah bid’ah yang dimunculkan oleh orang-orang yang tidak punya pekerjaan (baca : kurang kerjaan) dan bid’ah ini juga merupakan selera nafsu yang amat diperhatikan oleh orang-orang yang suka makan”. [Lihat Al-Mawrid fii ‘Amalil Maulid (hal.
8-9) karya Al-Fakihaniy, cet. Darul Ashimah, 1419 H]

Sumber :
Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne, Kel. Borong Loe,
Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. Pimpinan Redaksi / Penanggung Jawab : Ustadz Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/
pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

http://www.darussalaf.or.id

KEBATILAN TEORI DARWIN

image

Charles Robert Darwin (lahir di Shrewsbury, Shropshire, Inggris, 12 Desember 1809 – meninggal di Downe, Kent, Inggris, 19 April1882 pada umur 72 tahun) adalah seorang naturalis Inggris yang teori revolusionernya
meletakkan landasan bagi teori evolusi modern dan prinsip garis keturunan yang sama ( common descent )
dengan mengajukan seleksi alam sebagai mekanismenya. Teori ini kini dianggap sebagai komponen integral dari biologi (ilmu hayat).

Bukunya On the Origin of Species by Means of Natural Selection, or The Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life (biasanya disingkat menjadi The Origin of Species ) (1859) merupakan karyanya yang paling terkenal sampai sekarang. Buku ini menjelaskan evolusi melalui garis keturunan yang sama sebagai penjelasan
ilmiah yang dominan mengenai keanekaragaman di dalam alam. Darwin diangkat menjadi Fellow of the Royal Society, melanjutkan penelitiannya, dan menulis serangkaian buku tentang tanaman dan binatang, termasuk manusia, dan yang menonjol adalah The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex dan The Expression of the Emotions in Man and Animals . Bukunya yang terakhir adalah tentang cacing tanah.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Charles_Darwin)

Teori Darwin yang menyatakan bahwa semua makhluk hidup bersaing di alam ini melalui seleksi alam, membuat semua manusia terutama ras-ras tertentu merasa terancam. Sejak teori ini dihembuskan, sejak itu pula secara signifikan manusia semakin berlomba untuk dapat bertahan dengan berbagai cara, terutama melalui peperangan. Keadaan dunia yang kacau seperti sekarang hanya karena untuk bertahan hidup membuat segala kekacauan bersumber dari teori ini. Mereka beranggapan bahwa suatu ras harus mendominasi agar
dapat bertahan hidup.
Padahal yang benar adalah justru yang dominan atau
mayoritas harus memelihara dan menjaga yang minoritas. Jadi yang minoritas tak perlu khawatir
punah, sedangkan yang dominan tak perlu
mengintimidasi dan memusnahkan yang minoritas.

Itulah manusia, makhluk yang diberi akal agar saling
menjaga, bukan berperang atau saling berlomba
memusnahkan! Tidak hanya itu, secara perekonomian, ideologi, sosial dan politik mereka juga saling mengalahkan dan berusaha untuk bertahan dengan berbagai cara. Teori
yang menjerumuskan manusia agar berfikir untuk
bertahan ini, membuat para ilmuwan mengkategorikan
sebagai “teori paling berbahaya sepanjang masa!”.
[http://indocropcircles.wordpress.com/2013/01/23/
teori-darwin-terputus-manusia-tidak-primitif/]

Manusia Modern Sudah Ada Sejak Jutaan Tahun Lalu Bukti manusia modern ada sejak 430,000 tahun lalu
sebagai titik tolak manusia awal melalui desain canggih yang ditemukan diwilayah utara, Jerman. Pendukung teori Darwin menyatakan bahwa Homo Sapiens modern hidup sejak 50 ribu tahun yang lalu. Sementara peneliti modern menyatakan bahwa nenek moyang manusia sudah hidup sekitar 100 ribu tahun, bahkan sekarang banyak peneliti yang sepakat bahwa manusia mulai berkembang sejak 275 ribu tahun lalu.

Peralatan batu yang ditemukan di Hueytalco-Meksiko berusia 250 tahun, jauh sebelum manusia bermigrasi ke Amerika. Tengkorak manusia ditemukan diwilayah Buenos Aires, Argentina yang berusia 1 juta tahun, dan patung manusia berukuran kecil ditemukan di Nampa- Idaho dalam lapisan bebatuan berusia 2 juta tahun. Bukti ini jelas menyatakan bahwa ras manusia sudah ada dan hidup berdampingan dengan manusia kera sebagai ras primitif.

Bukti semakin bertambah, fosil-fosil yang ditemukan berusia terkadang lebih tua dari pernyataan evolusi
manusia. Kemungkinan manusia modern sudah ada sejak 2,5, atau bahkan 10 juta tahun yang lalu, dimana
teori Darwin menyatakan manusia kera hidup ditahun-tahun tersebut.

=============================

Sebagian manusia ada yang meyakini bahwa asal penciptaan manusia berasal dari kera. Jadi, menurut
teori ini, manusia awalnya berbentuk kera. Lalu mengalami perkembangan dan evolusi yang mengubah struktur dan bentuk tubuh mereka lebih sempurna; cara berpikir juga berkembang, dan perlahan-lahan berubah bentuk dari monyet jadi manusia sempurna. Inilah
“teori evolusi” batil yang pernah dicetuskan oleh Darwin. Teori ini didasari oleh sangkaan dan perkiraan-
perkiraan batil yang tidak dibangun di atas dalil dari wahyu.

Para ulama’ telah memberikan pengingkaran atas teori Darwin ini, karena menyelisihi nash-nash Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ para salaf. Oleh karenanya, Syaikh bin Baaz dan ulama’ sejawatnya yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’ memberikan jawaban terhadap pertanyaan seputar teori Darwin dengan menyatakan dengan tegas,
“Pendapat ini tak benar!! Dalil yang membuktikan hal itu (yakni, kebatilan teori Darwin),

Allah -Ta’ala- telah menjelaskan dalam Al-Qur’an tentang periode penciptaan Adam seraya berfirman ;
“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam.
Allah menciptakan Adam dari tanah.” (QS. Ali Imraan: 59)

Kemudian tanah ini dibasahi sehingga menjadi tanah liat yang melengket pada tangan. Allah -Ta’ala- berfirman,
“Dan Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.”
(QS. Al-Mu’minun: 12)

Allah -Ta’ala- berfirman,
“Sesungguhnya kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.” (QS. Ash-Shaaffat: 11)

Kemudian menjadi lumpur hitam yang diberi bentuk.
Allah -Ta’ala- berfirman,
“Dan sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”
(QS. Al-Hijr: 26)

Kemudian setelah menjadi kering, maka ia menjadi tanah
kering seperti tembikar. Allah -Ta’ala- berfirman,
“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.”
(QS. Ar-Rahman: 14)

Allah membentuknya sesuai bentuk yang dikehendaki oleh Allah, dan meniupkan ruh padanya dari ruh-ruh
(ciptaan)-Nya. Allah -Ta’ala-’ berfirman,
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan
seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Lalu apabila Aku
telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
(QS.Al-Hijr : 28-29)

Inilah periode-periode yang dilalui penciptaan Adam menurut Al-Qur’an.

Adapun periode-periode yang dilalui
oleh penciptaan anak-cucu Adam, maka Allah -Ta’ala- berfirman,
“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami
jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia
makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”
(QS. Al-Mu’minun:12-14)

Adapun istri Adam (yakni, Hawwa’), maka Allah -Ta’ala- pun menjelaskan bahwa Dia menciptakannya
dari Adam seraya berfirman,
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan
perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
(QS. An-Nisaa’:1)

Wabillahit taufiq. Washollahu alaa nabiyyinaa Muhammadin wa aalihi washohbihi wa sallam.”
[Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (1/68-70), cet. Dar Balansiyah, 1421 H]

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 65 Tahun
II.

http://www.darussalaf.or.id/aqidah/teori-darwin-tentang-evolusi-manusia-menurut-islam/

INSTROSPEKSI DIRI, AHLAQ YANG MULAI DILUPAKAN

Dalam perjalanan hidup di dunia, tentunya seorang muslim tidak akan lepas dari kesalahan dan dosa sebagai akibat hawa nafsu yang diperturutkan. Selain itu, buah pemikiran yang dihasilkan manusia, yang dibangga-banggakan oleh pemiliknya, tidak jarang yang menyelisihi kebenaran, tidak sedikit yang bertentangan dengan ajaran yang ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya. Oleh karenanya, seiring waktu yang diberikan Allah kepada manusia di dunia, sepatutnya dipergunakan untuk mengintrospeksi segala perilaku dan pemikiran yang dia miliki, sehingga mendorongnya untuk mengoreksi diri ke arah yang lebih baik.

Introspeksi, Pintu untuk Mengoreksi Diri

Di dalam kitab Shahih -nya, imam Bukhari membuka salah satu bab kitab ash-Shaum dengan perkataan Abu az-Zinad,

ﺇﻥ ﺍﻟﺴﻨﻦ ﻭﻭﺟﻮﻩ ﺍﻟﺤﻖ ﻟﺘﺄﺗﻲ ﻛﺜﻴﺮًﺍ ﻋﻠﻰ ﺧﻼﻑ ﺍﻟﺮﺃﻱ
“Sesungguhnya mayoritas sunnah dan kebenaran bertentangan dengan pendapat pribadi ” [HR.Bukhari].

Memang benar apa yang dikatakan beliau, betapa seringnya seseorang enggan menerima kebenaran karena bertentangan dengan pendapat dan tendensi pribadi. Bukankah dakwah tauhid yang ditawarkan nabi kepada kaum musyrikin, ditolak karena bertolak belakang dengan keinginan pribadi mereka, terutama tokoh-tokoh terpandang di kalangan kaum musyrikin?
Tidak jarang seseorang tidak mampu selamat dari hawa nafsu dan terbebas dari kekeliruan pendapat karena bersikukuh meyakini sesuatu dan tidak mau menerima koreksi. Hal ini tentu berbeda dengan kasus seorang mujtahid yang keliru dalam berijtihad. Ketika syari’at menerangkan bahwa seorang mujtahid yang keliru memperoleh pahala atas ijtihad yang dilakukannya, hal ini bukan berarti mendukung dirinya untuk menutup mata dari kesalahan ijtihad dan bersikukuh memegang pendapat jika telah nyata akan kekeliruannya. Betapa banyak ahli fikih yang berfatwa kemudian rujuk setelah meneliti ulang fatwanya dan melihat bahwa kebenaran berada pada pendapat pihak lain.
Kita bisa mengambil pelajaran dari penolakan para malaikat terhadap kalangan yang hendak datang ke al-Haudh (telaga rasulullah di hari kiamat). Mereka tidak bisa mendatangi al-Haudh dikarenakan dahulu di dunia, mereka termasuk kalangan yang bersikukuh untuk berpegang pada kekeliruan, kesalahan dan kesesatan, padahal kebenaran telah jelas di hadapan mereka. Hal ini ditunjukkan dalam hadits, ketika para malaikat memberikan alasan kepada nabi,

ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻗَﺪْ ﺑَﺪَّﻟُﻮﺍ ﺑَﻌْﺪَﻙَ، ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺰَﺍﻟُﻮﺍ ﻳَﺮْﺟِﻌُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻋْﻘَﺎﺑِﻬِﻢْ، ﻓَﺄَﻗُﻮﻝُ : ﺃَﻟَﺎ ﺳُﺤْﻘًﺎ، ﺳُﺤْﻘًﺎ

“Mereka telah mengganti-ganti (ajaranmu) sepeninggalmu” maka kataku: “Menjauhlah sana…menjauhlah sana (kalau begitu) ” [Shahih. HR. Ibnu Majah].

Kita dapat melihat bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan kecelakaan kepada mereka, karena enggan untuk melakukan introspeksi, enggan melakukan koreksi dengan menerima kebenaran yang ada di depan mata. Oleh karenanya, evaluasi diri merupakan perantara untuk muhasabah an-nafs, sedangkan koreksi diri merupakan hasil yang pengaruhnya ditandai dengan sikap rujuk dari kemaksiatan dan kekeliruan dalam suatu pendapat dan perbuatan.

Sarana-sarana untuk Mengevaluasi Diri

Diantara sarana yang dapat membantu seseorang untuk mengevaluasi diri adalah
sebagai berikut:

Pertama, tidak menutup diri dari saran pihak lain
Seorang dapat terbantu untuk mengevaluasi diri dengan bermusyawarah bersama rekan dengan niat untuk mencari kebenaran. Imam Bukhari mengeluarkan suatu riwayat yang menceritakan usul Umar kepada Abu Bakr radhiallahu anhuma untuk mengumpulkan al-Quran. Tatkala itu Abu Bakr menolak usul tersebut, namun Umar terus mendesak beliau dan mengatakan bahwa hal itu merupakan kebaikan. Pada akhirnya Abu Bakr pun menerima dan mengatakan,

ﻓَﻠَﻢْ ﻳَﺰَﻝْ ﻋُﻤَﺮُ ﻳُﺮَﺍﺟِﻌُﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ ﺣَﺘَّﻰ ﺷَﺮَﺡَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﺬَﻟِﻚَ ﺻَﺪْﺭِﻱ، ﻭَﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺭَﺃَﻯ ﻋُﻤَﺮُ

“Umar senantiasa membujukku untuk mengevaluasi pendapatku dalam permasalahan itu hingga Allah melapangkan hatiku dan akupun berpendapat sebagaimana pendapat Umar” [HR. Bukhari].
Abu Bakr tidak bersikukuh dengan pendapatnya ketika terdapat usulan yang lebih baik. Dan kedudukan beliau yang lebih tinggi tidaklah menghalangi untuk menerima kebenaran dari pihak yang memiliki pendapat berbeda .

Kedua, bersahabat dengan rekan yang shalih
Salah satu sarana bagi seorang muslim untuk tetap berada di jalan yang benar adalah meminta rekan yang shalih untuk menasehati dan mengingatkan kekeliruan kita, meminta masukannya tentang solusi terbaik bagi suatu permasalahan, khususnya ketika orang lain tidak lagi peduli untuk saling mengingatkan. Bukankah selamanya pendapat dan pemikiran kita tidak lebih benar dan terarah daripada rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, padahal beliau bersabda,

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﺑَﺸَﺮٌ ﻣِﺜْﻠُﻜُﻢْ، ﺃَﻧْﺴَﻰ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﻨْﺴَﻮْﻥَ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻧَﺴِﻴﺖُ ﻓَﺬَﻛِّﺮُﻭﻧِﻲ

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh karenanya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa ” [HR. Bukhari].
Ketika budaya saling menasehati dan mengingatkan tertanam dalam perilaku kaum mukminin, maka seakan-akan mereka itu adalah cermin bagi diri kita yang akan mendorong kita berlaku konsisten. Oleh karena itu, dalam menentukan jalan dan pendapat yang tepat, anda harus berteman dengan seorang yang shalih. Anda jangan mengalihkan pandangan kepada maddahin (kalangan penjilat) yang justru tidak akan mengingatkan akan kekeliruan saudaranya.

ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﺎﻟْﺄَﻣِﻴﺮِ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﺟَﻌَﻞَ ﻟَﻪُ ﻭَﺯِﻳﺮَ ﺻِﺪْﻕٍ، ﺇِﻥْ ﻧَﺴِﻲَ ﺫَﻛَّﺮَﻩُ، ﻭَﺇِﻥْ ﺫَﻛَﺮَ ﺃَﻋَﺎﻧَﻪُ

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi diri seorang pemimpin/pejabat, maka Allah akan memberinya seorang pendamping/pembantu yang jujur yang akan mengingatkan jika dirinya lalai dan akan membantu jika dirinya ingat ” [Shahih. HR. Abu Dawud].

Contoh nyata akan hal ini disebutkan dalam kisah al-Hur bin Qais, orang kepercayaan Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu . Pada saat itu, Umar murka dan hendak memukul Uyainah bin Husn karena bertindak kurang ajar kepada beliau, maka al-Hur berkata kepada Umar,

ﻳَﺎ ﺃَﻣِﻴﺮَ ﺍﻟﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ، ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻨَﺒِﻴِّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : } ﺧُﺬِ ﺍﻟﻌَﻔْﻮَ ﻭَﺃْﻣُﺮْ ﺑِﺎﻟﻌُﺮْﻑِ ﻭَﺃَﻋْﺮِﺽْ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺠَﺎﻫِﻠِﻴﻦَ {
]ﺍﻷﻋﺮﺍﻑ : [199 ، ﻭَﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺠَﺎﻫِﻠِﻴﻦَ، » ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﺟَﺎﻭَﺯَﻫَﺎ ﻋُﻤَﺮُ ﺣِﻴﻦَ ﺗَﻼَﻫَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻭَﻗَّﺎﻓًﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠَّﻪِ »

“Wahai amir al-Mukminin, sesungguhnya Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya, “Berikan maaf, perintahkan yang baik dan berpalinglah dari orang bodoh.” Sesungguhnya orang ini termasuk orang yang bodoh”. Perawi hadits ini mengatakan, “Demi Allah Umar tidak menentang ayat itu saat dibacakan karena ia adalah orang yang senantiasa tunduk terhadap al-Quran. ” [HR. Bukhari].

Betapa banyak kezhaliman dapat dihilangkan dan betapa banyak tindakan yang keliru dapat dikoreksi ketika rekan yang shalih menjalankan perannya.

Ketiga, menyendiri untuk melakukan muhasabah
Salah satu bentuk evaluasi diri yang paling berguna adalah menyendiri untuk melakukan muhasabah dan mengoreksi berbagai amalan yang telah dilakukan.
Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab, beliau mengatakan,

ﺣَﺎﺳِﺒُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﺗُﺤَﺎﺳَﺒُﻮﺍ، ﻭَﺗَﺰَﻳَّﻨُﻮﺍ ﻟِﻠْﻌَﺮْﺽِ ﺍﻷَﻛْﺒَﺮِ

“Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal shalih) untuk pagelaran agung (pada hari kiamat kelak) ” [HR. Tirmidzi].

Diriwayatkan dari Maimun bin Mihran, beliau berkata,

ﻟَﺎ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﺍﻟﻌَﺒْﺪُ ﺗَﻘِﻴًّﺎ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺤَﺎﺳِﺐَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺤَﺎﺳِﺐُ ﺷَﺮِﻳﻜَﻪُ

“Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sebagaimana dia mengoreksi rekannya” [HR. Tirmidzi].

Jika hal ini dilakukan, niscaya orang yang melaksanakannya akan beruntung. Bukanlah sebuah aib untuk rujuk kepada kebenaran, karena musibah sebenarnya adalah ketika terus-menerus melakukan kebatilan.

Faedah Mengintrospeksi Diri

Mengintrospeksi diri memiliki beberapa faedah, yaitu:

Pertama, musibah terangkat dan hisab diringankan
Pada lanjutan atsar Umar di atas disebutkan bahwa sebab terangkatnya musibah dan
diringankannya hisab di hari kiamat adalah ketika seorang senantiasa bermuhasabah. Umar radhiallahu anhu mengatakan,

ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻳَﺨِﻒُّ ﺍﻟﺤِﺴَﺎﺏُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻦْ ﺣَﺎﺳَﺐَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ

“Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia” [HR. Tirmidzi].

Ketika berbagai kerusakan telah merata di seluruh lini kehidupan, maka jalan keluar dari hal tersebut adalah dengan kembali (rujuk) kepada ajaran agama sebagaimana yang disabdakan nabi shallallahu alaihi wa sallam,

ﺇِﺫَﺍ ﺗَﺒَﺎﻳَﻌْﺘُﻢْ ﺑِﺎﻟْﻌِﻴﻨَﺔِ ، ﻭَﺃَﺧَﺬْﺗُﻢْ ﺃَﺫْﻧَﺎﺏَ ﺍﻟْﺒَﻘَﺮِ، ﻭَﺭَﺿِﻴﺘُﻢْ ﺑِﺎﻟﺰَّﺭْﻉِ، ﻭَﺗَﺮَﻛْﺘُﻢُ ﺍﻟْﺠِﻬَﺎﺩَ، ﺳَﻠَّﻂَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺫُﻟًّﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﺰِﻋُﻪُ ﺣَﺘَّﻰ
ﺗَﺮْﺟِﻌُﻮﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺩِﻳﻨِﻜُﻢْ
“Apabila kamu berjual beli dengan cara inah (riba), mengambil ekor-ekor sapi (berbuat zhalim), ridha dengan pertanian (mementingkan dunia) dan meninggalkan jihad (membela agama), niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Dia tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada ajaran agama ”
Dalam riwayat lain, disebutkan dengan lafadz,
ﺣﺘﻰ ﻳﺮﺍﺟﻌﻮﺍ ﺩﻳﻨﻬﻢ
“Hingga mereka mengoreksi pelaksanaan ajaran agama mereka ” [Shahih. HR. Abu Dawud].

Anda dapat memperhatikan bahwa rujuk dengan mengoreksi diri merupakan langkah awal terangkatnya musibah dan kehinaan.
Kedua, hati lapang terhadap kebaikan dan mengutamakan akhirat daripada dunia
Demikian pula, mengoreksi kondisi jiwa dan amal merupakan sebab dilapangkannya hati untuk menerima kebaikan dan mengutamakan kehidupan yang kekal (akhirat) daripada kehidupan yang fana (dunia). Dalam sebuah hadits yang panjang dari Ibnu Mas’ud disebutkan, “Suatu ketika seorang raja yang hidup di masa sebelum kalian berada di kerajaannya dan tengah merenung. Dia menyadari bahwasanya kerajaan yang dimilikinya adalah sesuatu yang tidak kekal dan apa yang ada di dalamnya telah menyibukkan dirinya dari beribadah kepada Allah. Akhirnya, dia pun mengasingkan diri dari kerajaan dan pergi menuju kerajaan lain, dia memperoleh rezeki dari hasil keringat sendiri. Kemudian, raja di negeri tersebut mengetahui perihal dirinya dan kabar akan keshalihannya. Maka, raja itupun pergi menemuinya dan meminta nasehatnya. Sang raja pun berkata kepadanya, “Kebutuhan anda terhadap ibadah yang anda lakukan juga dibutuhkan oleh diriku”. Akhirnya, sang raja turun dari tunggangannya dan mengikatnya, kemudian mengikuti orang tersebut hingga mereka berdua beribadah kepada Allah azza wa jalla bersama-sama ” [Hasan. HR. Ahmad].

Perhatikan, kemampuan mereka berdua untuk mengoreksi kekeliruan serta keinginan untuk memperbaiki diri setelah dibutakan oleh kekuasaan, timbul setelah merenungkan dan mengintrospeksi hakikat kondisi mereka.

Ketiga, memperbaiki hubungan diantara sesama manusia
Introspeksi dan koreksi diri merupakan kesempatan untuk memperbaiki keretakan yang terjadi diantara manusia. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟِﺎﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴﺲِ، ﻓَﻴُﻐْﻔَﺮُ ﻟِﻜُﻞِّ ﻋَﺒْﺪٍ ﻟَﺎ ﻳُﺸْﺮِﻙُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﺇِﻟَّﺎ ﺭَﺟُﻞٌ ﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺃَﺧِﻴﻪِ
ﺷَﺤْﻨَﺎﺀُ، ﻓَﻴُﻘَﺎﻝُ : ﺃَﻧْﻈِﺮُﻭﻫُﻤَﺎ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺼْﻄَﻠِﺤَﺎ ” ﻣَﺮَّﺗَﻴْﻦِ
“Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, di kedua hari tersebut seluruh hamba diampuni kecuali mereka yang memiliki permusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan, “Tangguhkan ampunan bagi kedua orang ini hingga mereka berdamai” [Sanadnya shahih. HR. Ahmad].

Menurut anda, bukankah penangguhan ampunan bagi mereka yang bermusuhan, tidak lain disebabkan karena mereka enggan untuk mengoreksi diri sehingga mendorong mereka untuk berdamai?

Keempat, terbebas dari sifat nifak
Sering mengevaluasi diri untuk kemudian mengoreksi amalan yang telah dilakukan merupakan salah satu sebab yang dapat menjauhkan diri dari sifat munafik. Ibrahim at-Taimy mengatakan,

ﻣَﺎ ﻋَﺮَﺿْﺖُ ﻗَﻮْﻟِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻤَﻠِﻲ ﺇِﻟَّﺎ ﺧَﺸِﻴﺖُ ﺃَﻥْ ﺃَﻛُﻮﻥَ ﻣُﻜَﺬِّﺑًﺎ
“Tidaklah diriku membandingkan antara ucapan dan perbuatanku, melainkan saya khawatir jika ternyata diriku adalah seorang pendusta (ucapannya menyelisihi perbuatannya). ”
Ibnu Abi Malikah juga berkata,

ﺃَﺩْﺭَﻛْﺖُ ﺛَﻼَﺛِﻴﻦَ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﻳَﺨَﺎﻑُ ﺍﻟﻨِّﻔَﺎﻕَ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﻔْﺴِﻪِ، ﻣَﺎ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺃَﺣَﺪٌ ﻳَﻘُﻮﻝُ : ﺇِﻧَّﻪُ
ﻋَﻠَﻰ ﺇِﻳﻤَﺎﻥِ ﺟِﺒْﺮِﻳﻞَ ﻭَﻣِﻴﻜَﺎﺋِﻴﻞَ
“Aku menjumpai 30 sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, merasa semua mengkhawatirkan kemunafikan atas diri mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan bahwa keimanannya seperti keimanan Jibril dan Mikail ” [HR. Bukhari].
Ketika mengomentari perkataan Ibnu Abi Malikah, Ibnu Hajar mengutip perkataan Ibnu Baththal yang menyatakan,

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺧَﺎﻓُﻮﺍ ﻟِﺄَﻧَّﻬُﻢْ ﻃَﺎﻟَﺖْ ﺃَﻋْﻤَﺎﺭُﻫُﻢْ ﺣَﺘَّﻰ ﺭَﺃَﻭْﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺘَّﻐَﻴُّﺮِ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻌْﻬَﺪُﻭﻩُ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻘْﺪِﺭُﻭﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﻧْﻜَﺎﺭِﻩِ ﻓَﺨَﺎﻓُﻮﺍ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻧُﻮﺍ
ﺩَﺍﻫَﻨُﻮﺍ ﺑِﺎﻟﺴُّﻜُﻮﺕِ
“Mereka khawatir karena telah memiliki umur yang panjang hingga mereka melihat berbagai kejadian yang tidak mereka ketahui dan tidak mampu mereka ingkari, sehingga mereka khawatir jika mereka menjadi seorang penjilat dengan sikap diamnya” [ Fath al-Baari 1/111].

Kesimpulannya, seorang muslim sepatutnya mengakui bahwa dirinya adalah tempatnya salah dan harus mencamkan bahwa tidak mungkin dia terbebas dari kesalahan. Pengakuan ini mesti ada di dalam dirinya, agar dia dapat mengakui kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sehingga pintu untuk mengoreksi diri tidak tertutup bagi dirinya. Allah ta’ala berfirman,

ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﻐﻴﺮ ﻣﺎ ﺑﻘﻮﻡ ﺣﺘﻰ ﻳﻐﻴﺮﻭﺍ ﻣﺎ ﺑﺄﻧﻔﺴﻬﻢ
“Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri” (Al-Ra`d 11).

Manusia merupakan makhluk yang lemah, betapa seringnya dia memiliki pendirian dan sikap yang berubah-ubah. Namun, betapa beruntungnya mereka yang dinaungi ajaran agama dengan mengevaluasi diri untuk berbuat yang tepat dan mengoreksi diri sehingga melakukan sesuatu yang diridhai Allah. Sesungguhnya rujuk kepada kebenaran merupakan perilaku orang-orang yang kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.

Disadur dari artikel al-Muraja’ah wa at-Tashhih

Penerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Artikel http://www.muslim.or.id
==========

Arti sebuah kesalahan…

Manusia memang bukanlah makhluk sempurna. Di balik hal-hal luar biasa yang bisa
dilakukannya, tentu terdapat kesalahan atau ketidaksempurnaan yang dimilikinya. Hal ini adalah
sesuatu yang wajar. Ketidaksempurnaan itu terkadang begitu kecil dan remeh. Manusia bisa
membuat ketidaksempurnaan itu menjadi sesuatu yang tidak berarti, sesuatu yang
menguntungkan, atau justru merugikan.
Bagaimana cara seseorang menyikapi kekurangannya dan apa yang akan terjadi setelahnya
adalah sebuah misteri. Ada orang yang menyerah dengan kelemahannya kemudian hidup dalam
keterbatasan. Ada orang yang berjuang hingga berhasil melewati permasalahannya. Ada orang
yang berhasil, kemudian karena suatu hal maka menjadi jatuh. Ada orang yang berulang kali
berusaha dan baru mendapatkan keberhasilan pada usaha terakhir. Dan masih ada banyak kisah
seperti itu. Bagaimana cara seseorang untuk bertahan dan bangkit dari kelemahan yang
dimilikinya sering menginspirasi orang lain untuk menjalani hidup lebih baik.
Selain kelemahan, bentuk lain dari ketidaksempurnaan adalah kesalahan. Manusia sering
berbuat kesalahan yang mungkin bukan disebabkan oleh kelemahan yang dimilikinya. Kesalahan
yang dilakukan ini sering membawa manusia ke dalam situasi yang tidak menyenangkan, baik
bagi dirinya maupun bagi orang lain. Bagaimana cara seseorang untuk menyikapi kesalahan
yang telah dilakukannya dan memperbaiki keadaan adalah sesuatu yang juga kadang
diperhatikan oleh banyak orang.
Sebuah peribahasa “Akibat nila setitik, rusak susu sebelanga” menggambarkan kesalahan kecil
yang berakibat besar pada lingkungan sekitarnya. Hanya karena sebuah noda, susu dalam
belanga jadi tak layak untuk dikonsumsi. Rusak total. Kesalahan kecil menjadi sebuah
permasalahan besar.
Menyesal? Lalu apa yang harus dilakukan selanjutnya?
Sebuah penyesalan tanpa ada usaha untuk memperbaiki keadaan adalah sesuatu yang
percuma. Namun, ada kalanya keadaan memaksa sehingga kita tidak bisa melakukan apa-apa
untuk memperbaikinya. Jika hal itu terjadi, maka pelajarilah pengalaman dan kesalahan itu agar
tak terjadi kesalahan yang sama di kemudian hari.
Kesalahan kecil, meskipun tidak menyebabkan apa-apa, tetaplah diperhatikan dan bertekadlah
untuk memperbaikinya. Baik untuk menyadari bahwa itu adalah kesempatan kita untuk
memperbaiki diri selama kesalahan itu tidak mengakibatkan suatu yang berarti. Lebih baik
mempersiapkan diri sebelum yang lebih buruk terjadi, bukan?
Kawan,
Kita bisa saja membiarkan kesalahan-kesalahan kecil yang kita buat. Kita tahu itu kecil, biasa,
dan remeh. Namun, ketahuilah bahwa kesalahan-kesalahan kecil itu akan terus bermunculan
sebelum kita sanggup mengatasinya. Sebelum kesalahan itu berbenturan dengan kesalahan
lainnya, alangkah baiknya jika kita bisa menyelesaikannya lebih awal. Kesalahan itu akan tetap
sebagai kesalahan jika kita membiarkannya, tapi akan berubah menjadi sebuah kesempatan jika
kita menanggapinya dengan benar.